BRIEF SUMMARIES OF CONTENTS 

(in Indonesian)

home

Set 1: Classical Balinese Theatre and Dance

 

 

ARJA

 

1. Arja: SITI MARKONAH

 

Ringkasan ceritra I: Di Pesraman Wilwatikta belajar beberapa orang murid. Diantaranya adalah Siti Asiah dari Madura dan Rahaden Datuk Raja Dibumi dari Minangkabau. Karena sering belajar bersama-sama mereka akhirnya pacaran.

 

Siti asiah merasa kesepian karena lama Rahaden Datuk Raja Dibumi tidak datang. Tidak lama kemudian Rahaden Datuk Raja Dibumi datang. Siti Asiah cemburu karena Rahaden Datuh Raja Dubumi baru datang. Mereka akhirnya saling sindir.

 

Dikisahkan di Madura Pura Limbur Membicarakan tentang kemakmuran kerajaannya. Beliau juga mengatakan bahwa Siti Markonah adalah anak kandungnya sedangkan Siti Asiah adalah anak tirinya. Tetapi oleh beliau keduanya dianggap anak kandungnya.

 

Limbur mengatakan kepada Siti Markonah Bahwa ada seorang perjaka yang meminangnya. Karena yang meminang adalah sederajat Siti Markonahpun memenuhi pinangan tersebut. Kemudian dilakukan persiapan penyambutan calon pengantin pria.

 

Di Minangkabau Rahaden Datuk Raja Dilangit diperintahkan untuk meminang putri dari Madura. Melihat foto yang cantik bagaikan bidadari, Rahaden Datuk Raja Dilangitpun berangkat ke Madura.

 

Rahaden Datuk Raja Dilangit sudah sampai di madura Pura. Alangkah terkejutnya beliau baru melihat pengantin putrinya. Diluar dugaan, pengantin putri sangatlah jelek rupanya. Karena tidak ada niat untuk mengawininya maka Rahaden Datuk Raja Dulangit pergi meninggalkan pengantin putri. Di tengah perjalanan beliau bertemu dengan Siti Asiah yang persis seperti foto yang akan dilamar. Maka dari itu beliau memaksa Siti Asiah untuk dibawa pulang ke Minangkabau. Rahaden Datuk Raja Dibumi segera datang menolong Siti Asiah dan mengakui bahwa Siti asiah adalah pacarnya demikian juga dengan Siti Asiah, dia juga mengakui bahwa Rahaden Datuk Raja Dibumi adalah pacarnya. Maka dengan restu Limbur dan Raja Tua merekapun akhirnya melangsungkan pernikahan.

 

 

2. Arja: WIJAYA SANTA

 

Pada bagian yang pertama ini diceritakan Prabu Jenggala permaisuri Diah Pranawati yang juga merangkap sebagai pengusa Kerajaan Jenggala merasa cemas dengan kepergian suaminya yakni Panji Surengrana. Yang pada mulanya mengatakan bahwa kepergiannya adalah untuk bertapa ke hutan. Setelah kian lama pergi Prabu Surengrana belum juga kembali ke negeri Jenggala. Suatu saat Putra Mahkota yakni Rahaden Wijaya Santa datang menghadap ke Ibunya yakni Diah Pranawati menanyakan tentang ayahnya. Karena beliau sama sekali tidak mengetahui siapa ayahnya yang sebenarnya. Dengan perasaan maspur Dewi Pranawati menceritakan bahwa ayahnya adalah seorang Raja yang bernama Panji Surengrana dan sekarang telah kawin dengan Putri Kerajaan Pejarakan. Nah bagaimana selanjutnya usaha Rahaden Wijaya Santa mencari ayahnya mari kita saksikan bersama-sama. Pada bagian kedua ini Rahaden Wijaya Santa dalam kehadaan bahagia karena keinginannya selalu dipenuhi oleh ibunya yakni Diah Pranawati. Semakin Dewasa Rahaden Wijaya Santa berkeinginan mengetahui asal usulnya. Pada suatu saat Diah Pranawati merasa terdesak oleh pertanyaan Wijaya Santa. Karena dia ingin mengetahui dan bertemu dengan ayahnya. Dengan terpaksa Diah Pranawati menceritakan bahwa ayhnya bernama Raja Surengsana. Telah lama meninggalkan istana untuk bertapa ke hutan. Wijaya Santa kemudian mohon kepada ibunya agar diijinkan mencari ayahnya. Nah bagaimana selanjutnya perjalanan Rahaden Wijaya Santa mencari ayahnya.

 

Pada bagian ketiga ini Prabu Surengrana meninggalkan Jenggala untuk bertapa di hutan. Namun dalam perjalanan hatinya tertambat oleh Putri Raja Pejarakan yakni Diah Anggrek Ulan. Selama Prabu Surengrana berada di pejarakan diah Anggrek Ulan selalu merasa gembira dan rakyatpun merasa bahagia. Namun ketenangan suasana di pejarakan suatu ketika terusik oleh Wijaya Santa yang mengaku sebagai putra Prabu Surengrana. Prabu Surengrana kaget dan langsung mengusut Wijaya Santa. Setelah Wijaya Santa memperlihatkan sebentuk cincin teringatlah Prabu Surengrana pada masa lalunya bersama Galuh di Jenggala. Nah pemirsa apakah Prabu Surengrana mau mengakui Wijaya Santa sebagai putranya. Mari kita saksikan bersama. Pada bagian yang ketiga kita telah saksikan Bahwa Prabu Surengrana mengakui Wijaya Santa adalah putranya. Hal ini menimbulkan kemarahan Liku yang kemudian berusaha menyingkirkan Wijaya Santa. Selanjutnya pada bagian terakhir ini dikisahkan dengan akal licik Liku berhasil membunuh Wijaya Santa. Ibu Wijaya Santa yakni Galuh selalu gelisah karena sudah Laman Wijaya Santa pergi mencari ayahnya. Dan sampai kini belum juga kembali. Akhirnya Galuh memutuskan untuk mencari Wijaya Santa. Dalam perjalanan di hutan Galuh menemui Wijaya Santa telah menjadi mayat. Kemudian dengan fisik galuh mohon kepada Hyang Maha Kuasa agar Wijaya Santa dihidupkan kembali. Permohonan Galuh terkabul. Dan mereka melanjutkan perjalanan mencari Prabu Surengrana ke Pejarakan.

 

 

3. Arja: GALUH NGAJANG SEBUN

 

Dikisahkan pada babak pertama di Kerajaan Jenggala Rahaden Kusumadewa mempunyai dua orang istri yaitu Diah Pradnyawati dan Diah Ratnaning Juwita. Ibu dari Rahaden Kusumadewa merasa sangat senang karena Rahaden Kusumadewa selain tentram dengan istrinya beliau juga pintar memerintah kerajaan Jenggala. Tetapi sangat disayangkan bertahun-tahun Rahaden Kusumadewa sudah memiliki istri sampai saat ini belum mempunyai anak. Nah demikianlah ringkasan ceritra dari Arja Galuh Ngajang Sebun. Untuk lebih jelasnya mari kita ikuti Arja berikut ini.

 

Dikisahkan pada babak kedua di kerajaan Jenggala Kedua istri dari Rahaden Kusumadewa sangat bahagia dan mereka selalu bersama-sama. Kemudian kedua istri beliau menghadan kepada Rahaden Kusumadewa. Setelah bertemu mereka akhirnya memadu kasih. Pada saat mereka memadu kasih tiba-tiba datanglah Ibu dari Rahaden Kusumadewa. Rahaden Kusumadewa kaget dan sangat malu karena tanpa sepengetahuan beliau ibunya datang. Tetapi ibu beliau merasa sangat senang melihat Rahaden Kusumadewa bahagia bersama istri beliau. Pada saat itu ibu Rahaden Kusumadewa meminta agar beliau segera dibuatkan cucu. Nah demikianlah ringkasan ceritra yang dapat saya ungkapkan. Kelanjutanya mari kita ikuti lanjutan arja berikut ini.

 

 

Dikisahkan pada babak ketiga di Kerajaan Jenggala R.Kusumadewa yang sedang memadu kasih dengan kedua istrinya didatangi oleh ibunya. Ibu dari R.Kusumadewa sangat senang melihat putranya bahagia dengan kedua istrinya. Ibu dari R.Kusumadewa meminta agar segera dibuatkan cucu. Karena demikian Diah Juwita mulai sekarang membuat peraturan yaitu agar secara bergantian tidur dengan suami mereka agar suami mereka tidak kewalahan. Yang pertama dikasi kesempatan tidur dengan R.Kusumadewa adalah Diah Pradnyawati. Diah Juwita menungguh selama tiga hari. Belum ada tiga hari Diah Juwita sudah tidak sabar. Timbulah niat buruk dari Diah Juwita. Diah Pradnyawati dipindahkan dan ditaruh di halaman. Kemudian Diah Juwita menggantikannya di tempat tidur. Diah Pradnyawati terbangun dan terkejut karena beliau berada di halaman. Diah Pradnyawati menjerit minta tolong. Datanglah Condong, Penasar, dan Kartala. Diah Pradnyawati menyuruh Kartala untuk melihat siapa yang tidur bersama R.Kusumadewa. Setelah diperiksa ternyata R.Kusumadewa tidur dengan Diah Juwita. Penasar dan kartala kemudian meminta ijin Diah Pradnyawati untuk menaruh Diah Juwita di kandang babi. Diah Pradnyawaati mengijinkan penasar dan Kartala untuk menaruh Diah Juwita di kandang babi. Kemudian Diah Pradnyawati lagi tidur bersama R.Kusumadewa. Di pagi harinya Diah Juwita terbangun dan terkejut karena beliau berada di kandang ayam. Kemudian Diah juwita murka dan beliau pulang ke Pejarakan untuk mengadu hal tersebut kepada ayah beliau. Sesampainya Diah Juwita di Pejarakan beliau menangis dan mengadu kejadian tersebut. Ayah beliau murka dan segera memberi guna-guna kepada Diah Juwita. Kemudian Diah Juwita disuruh kembali ke Jenggala. Nah demikianlah sedikit ringkasan cerita yang dapat kami kemukakan dan kelanjutanya mari kita ikuti arja berikut ini.

 

Pada babak yang terakhir dikisahkan setelah Diah Juwita diisi guna-guna oleh ayahnya beliau kemudian menunggu di luar kamar suaminya. Diah juwita bernyanyi-nyanyi seperti anak kecil. R.Kusumadewa keluar dari kamarnya dan terkejut karena Diah Juwita semakin cantik saja. R.Kusumadewa kemudian merayu Diah Juwita. Diah Juwita tidak mau Dirayu oleh R.Kusumadewa jika Diah Pradnyawati masih berada di antara mereka. Diah Juwita menyuruh R.Kusumadewa untuk mengusir Diah Pradnyawati. Tanpa berpikir panjang R.Kusumadewa kemudian mengusir Diah Pradnyawati. Diah Pranyawati mengembara tak tentu tujuannya. Di tengah hutan Diah Pradnyawati menemukan jurang. Diah Pradnyawati bermaksud menceburkan dirinya ke dalam jurang tersebut tetapi tiba-tiba ada suara terdengar. Suara tersebut tidak lain adalah suara Betara Ciwa. Betara Ciwa melarang Diah Pradnyawati menceburkan dirinya ke dalam jurang tersebut. Betara Ciwa kemudian menyuruh Diah Pradnyawati untuk kembali saja ke Jenggala. Dengan Bantuan Betara Ciwa pasti suami Beliau akan menerima Beliau kembali. Kemudian kembalilah Diah Pradnyawati ke Jenggala. Sesampainya Diah Pradnyawati di Jenggala beliau di sambut oleh suaminya. Diah Juwita akhirnya diusir dan dikembalikan ke Pejarakan. Nah demikianlah ringkasan cerita dari Arja Galuh ngajang sebun. Untuk kelanjutanya mari kita ikuti arja berikut ini.

 

 

4. Arja: BELA PRAMA SATYA

 

Pada babak pertama diceritakan di Deha Pura ada seorang putri yang sangat cantik, arip dan bijaksana dan dikagumi oleh masyarakat. Beliau bernama Diah Citra Ratni dan sudah mempunyai pacar Rahaden Jaya Semara dari Jenggala. Tetapi beliau sudah lama menginap di Deha karena sebentar lagi Diah Citra Ratni akan dipinangnya. Dilain pihak diceritakan Prabu Metaum Pura mempunyai dua orang anak. Dimana kedua anaknya tersebut sangat cerewet sekali. Mereka tiada lain adalah Liku dan Mantri Buduh. Prabu Metaum sangat menyesal tetapi apa boleh buat karena ha itu sudah menjadi suratan. Nah bagaimana ceritanya marilah kita ikuti bersama.

 

Pada babak kedua ini diceritakan dimana Liku yang tingkah lakunya seperti orang gila sangat merepotkan Made Rai dan Ibunya. Pada suatu ketika Ibunya terkejut mendengar permintaan Liku yang menginginkan Prabu Jenggala. Karena Ibunya sendiri sudah tahu bahwa Prabu Jenggala sudah mempunyai istri. Tetapi Liku tetap menuntut agar Ibunya bisa mencarikan Prabu Jenggala sebagai suaminya. Dibagian lain diceritakan di Jenggala Pura memerintah seorang Raja yang tiada lain adalah Raden Jaya Semara. Beliau sangat disegani oleh rakyatnya oleh karena dalam memimpin kerajaan beliau sangat bijaksana, adil dan berwibawa. Pada babak yang ketiga dikisahkan Jaya Semara yang telah lama tinggal di Deha berkeinginan pulang ke Jenggala. Demikian pula dalam pemikiran Diah Citra Ratni agar Jaya Semara segera pulang. Jaya Semarapun mau pulang asalkan bersama dengan Diah Citra Ratni yang nantinya akan dijadikan permaisuri. Nah ketika hari baik telah tiba merekapun berangkat pulang dari Deha Menuju Jenggala. Dibagian lain diceritakan tentang keberhasilan Prabu Metaum memerintah di Metaum Pura.

 

Pada babak yang keempat ini diceritakan putra dan putri Metaum ngamuk-ngamuk karena tidak diperbolehkan untuk menjalankan niatnya. Ibunya merasa kewalahan melayani anak-anaknya. Tapi pada akhirnya Ibunyapun menyetujui karena tidak ada pilihan lain kecuali menuruti keinginan anaknya. Sebab kalau tidak dituruti maka anak-anaknya mengancam akan bunuh diri. Maka diberilah anak-anaknya itu guna-guna agar Jaya Semara dan Diah Citra Ratni bisa didapatkan. Maka pergilah kedua putranya itu Mantri Buduh dan liku ke tengah hutan untuk mencegat perjalanan Prabu Jenggala bersama Diah Citra Ratni. Nah disinilah Jaya Semara bersama Diah Citra Ratni dikenai guna-guna sesirep oleh Mantri Buduh dan Liku, yang mengakibatkan mereka merasa ngantuk dan akhirnya tidur. Setelah tidur lelap maka Diah Citra Ratni diambil oleh Mantri Buduh dan Jaya Semara menjadi tergila-gila sama Liku.

 

Pada babak yang kelima ini dikisahkan Prabu Jenggala yang membawa calon istrinya yaitu liku akan melangsungkan pernikahan. Beliau akan mengadakan hiburan semalam suntuk dalam acara pernikahan tersebut. Dilain pihak diceritakan Diah Citra Ratni yang dibawa Mantri Buduh sempat meloloskan diri dan pergi ke Jenggala dengan menyamar menjadi pregina. Di Jenggala Diah Citra Ratni disambut sebagai seorang pregina dan langsung saja dia bercerita tentang Diah Drupadi. Liku sangat senang mendengar cerita Diah Citra Ratni. Kemudian Liku menyuruh menari tetapi Diah Citra Ratni tidak mempunyai gelungan. Oleh karena gelungan Diah Citra Ratni yang sebenarnya telah dicuri oleh Liku pada waktu ketiduran ditengah hutan. Karena Liku sangat berkeinginan untuk menyaksikan tarian Diah Citra Ratni maka Liku merelakan gelungan yang dicurinya itu yang merupakan milik Diah Citra Ratni dipinjam oleh Diah Citra Ratni. Setelah Diah Citra Ratni memakai gelungan maka Jaya Semara menjadi teringat akan calon istrinya yang asli. Jaya Semara kemudian merangkul Diah Citra Ratni. Disanalah terungkap perbuatan jahat Liku. Jaya Semara menjadi marah dan langsung menyuruh abdinya untuk memulangkan Liku kerumahnya. Dengan demikian berakhirlah cerita arja Bela Prama Satya ini.

 

 

5. Arja: BASUR

 

Pada babak yang pertama dikisahkan di Banjaran Santun ada seseorang yang terkenal sakti mandra guna yang bernama I Gede Basur. I Gede Basur mempunyai seorang putra yang bernama I Wayan Tigaron. I Wayan Tigaron meminta agar ayahnya I Gede Basur meminang Ni Sukasti untuk dijadikan istri. I Gede basur sangat senang sekali disuruh meminang Ni Sukasti apa lagi nanti bisa menjadi menantunya. Karena Ni Sukasti cantik, manis, pintar, menarik, pokoknya segalanya ada padanya. Demikianlah ringkasan cerita yang dapat kami kemukakan. Untuk kisah selanjutnya mari kita ikuti arja berikut ini.

 

Pada babak yang kedua dikisahkan Di Banjaran Sari hiduplah seorang pemuda bernama I Wayan Tirta, ayahnya bernama I Made Tanu. I Made Tanu menginginkan agar I Wayan Tirta segera mencari istri tetapi I Wayan Tirta belum ada niat untuk mencari istri. I Made Tanu terus mendesak anaknya agar mencari istri. Karena terus didesak maka I Wayan Tirta mau mencari istri. I Wayan Tirta kemudian menunjukkan bahwa perempuan yang harus dilamar oleh ayahnya adalah Ni Sukasti. Dengan segera I Made Tanu berangkat untuk melamar Ni Sukasti. Di rumah Ni Sukasti I Nyoman Karang Ayah dari Sukasti sedang menerima tamu yang bernama I Gede Basur.

 

Pada babak yang ketiga dikisahkan di rumah Sukasti I Nyoman Karang sedang menerima dua lamaran yaitu dari I Made Tanu untuk putranya yang bernama I Wayan Tirta, dan I Gede Basur untuk I Wayan Tigaron. I Nyoman Karang menjadi bingung, kemudian menyuruh Ni Sukasti untuk memilih salah satu diantara mereka. Ni Sukasti kemudian memilih I Wayan Tirta untuk menjadi suaminya. I Gede Basur menjadi marah kemudian pulang tanpa permisi. I Gede Basur kemudian mengundang para raksasa untuk menyakiti Ni Sukasti.

 

Pada babak yang keempat dikisahkan I Gede Basur yang marah karena lamarannya ditolak oleh Ni Sukasti kemudian mengundang para liak untuk menyakiti Ni Sukasti. Di rumah Sukasti semua menjadi panik karena tiba-tiba Ni Sukati tertimpa sakit keras. I Made Tanu dan I Kartala kemudian mencari Balian yang bisa mengobati sakit Ni Sukasti. Di tengah perjalanan mereka bertemu dengan Kaki Balian. Kemudian Kaki balianlah yang menolong Ni Sukasti.

 

 

6. Arja: WISIA BUANA

 

Pada babak yang pertama diceritakan dikerajaan Merta Pura Diah Puspawati telah lama ditinggal oleh Raden Pranajaya ke tengah hutan untuk bersemadi dengan harapan supaya dianudrahi oleh tuhan seorang putra yang baik. Namun setelah bertahun-tahun Raden Pranajaya tidak kunjung datang dari semadinya. Diah Puspasari gelisah. Karena tidak tahan akan kegelisahannya maka dia memutuskan untuk menghadap Ibu mertuanya bersama Ni Condong. Di lain pihak dikisahkan Ibu mertuanya sangat sayang padanya. Juga Ibu mertuanya merasa kangen akan kepergian anaknya ke tengah hutan yang lama sekali tidak datang-datang. Begitu juga dia merasa kecewa karena mengingat Diah Puspasari baru melaksanakan perkawinan sudah ditinggal begitu lama ke tengah hutan. Setibanya Diah Puspasari di puri dia langsung menyampaikan permasalahannya kepada Ibu mertuanya.

 

Pada babak kedua ini diceritakan Prabu Merta Pura merelakan menantunya Diah Puspasari untuk melacak jejak suaminya Raden Semarajaya ke tengah hutan. Namun dalam perjalanannya itu Diah Puspasari diberi bekal berupa Keris pajenengan Puri Merta Pura untuk menangkal segala bahaya yang mungkin menimpanya. Nah dengan berbekalan keris itu lalu Diah Puspasari berangkat ke tengah hutan dengan maksud mencari suaminya. Di lain pihak diceritakan Raden Semarajaya yang sedang kena guna-guna di tengah hutan merasa sangat senang sekali mempunyai istri Diah Ulasari dan mereka merasa tidak kekurangan suatu apapun semanjak berada di tengah hutan di Puri Naga Pura bersama Penasar dan Kartala. Namun dalam hatinya Kartala dan Penasar merasa sangat menderita dan sangat sedih karena mereka tahu bahwa Diah Ulasari itu sangat jelek. Mereka masih senang waktu mereka berada di Puri Merta Pura. Hal itu dapat dibaca oleh Semarajaya, lalu dia marah karena ulah parekannya berdua. Tetai tidak disangka akhirnya istrinya kedengaran ribut-ribut memanggilnya.

 

Pada babak ketiga ini dikisahkan Pranajaya yang sudah kena guna-guna sangat tergila-gila dengan Ulawati di kerajaan Naga Pura. Mereka bersenang-senang di taman saling bersuka cita. Namun sedang asiknya mereka didatangi oleh dua orang perempuan yang tiada lain adalah istrinya yang dari kerajaan Merta Pura yaitu Diah Puspasari bersama Ni Condong. Namun terhadap dua orang tamu itu Diah Ulawati yang disuruh melihatnya. Disana terjadi tanya jawab yang pada akhirnya menyebabkan Ulawati marah karena tamunya mengaku adalah istri dari Pranajaya. Ulawati tidak percaya sampai-sampai dia memaki tamunya itu. Karena dia tidak puas maka dipanggilah Pranajaya untuk menyelesaikan masalahnya. Akhirnya diputuskan untuk membunuh Diah Puspasari. Tapi keinginan Ulawati tidak bisa terpenuhi karena Pranajaya tidak berhasil membunuh Diah Puspasari. Itu semua disebabkan karena Diah Puspasari sudah membawa Keris kerajaan Merta Pura yang sangat sakti.

 

Pada babak keempat dikisahkan dengan berbekal keris Puri Merta Pura Diah Puspasari berhasil melumpuhkan guna-guna Ulawati yang meresap di tubuh Pranajaya. Akhirnya Pranajaya menjadi sadar bahwa dirinya diguna-guna oleh Ulawati. Dengan sadarnya dan ingat kepada istrinya serta Puri Merta Pura maka Pranajaya sangat marah dengan Ulawati. Ulawati di ikat dan ditinggal menuju Puri Merta Pura.

 

 

 

TOPENG

 

1. Topeng: DALEM SIDHA KARYA

 

Dikisahkan di Bali memerintahlah seorang Raja yang bernama Dalem Waturenggong. Dalem Waturenggong mengadakan upacara di Besakih yang bernama Upacara Nangluk Merana. Upacara tersebut tidak berjalan dengan lancar karena itik yang tadinya dibeli tiba-tiba mati, kelapa yang ratusan jumlahnya tiba-tiba kosong tidak ada isinya dan lain sebagainya.  Kemudian Dalem Waturenggong bersemedi di Besakih untuk mengetahui apa gerangan penyebabnya. Dalem Waturenggong mendapatkan pawisik dari Tuhan yaitu yang menyebabkan terhambatnya upacara tersebut adalah Brahmana dari Keling. Yang pernah diusir oleh rakyat karena mengaku bersaudara dengan Dalem Waturenggong. Brahmana tersebut kemudian memastu semua sarana upacara agar tidak bisa dipergunakan. Yang mana hal tersebut tidak diketahui oleh beliau. Beliau segera memerintahkan utusan untuk mencari Brahmana dari Keling tersebut. Dalem Waturenggong memohon kepada Brahmana agar mencabut pemastu yang pernah diucapkan agar semua sarana upacara bisa dipergunakan lagi. Brahmana tersebutpun mau mencabut pemastunya dengan syarat dia diakui sebagai saudara oleh Dalem Ketut Kepakisan. Dalem Ketut Kepakisan memenuhi permintaan Brahmana tersebut. Karena Brahmana tersebut akhirnya upacara bisa berjalan sebagai mestinya maka Brahmana tersebut dinamakan Dalem Sida Karya oleh Dalem Waturenggong.

 

 

2. Topeng: SRI AJI TAKIPATI

 

Dikisahkan Raja Sri Aji Taki Pati dari kerajaan Medang Kemulan melaksanakan upacara Dewa Yadnya untuk memohon keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dalam pelaksanaan upacara datang seekor kidang menghancurkan perlengkapan upacara. Melihat hal ini Raja sangat kecewa dan belau kemudian mohon pertimbangan seorang Pendeta. Pendeta mengatakan hal itu terjadi karena Raja tidak melengkapi upacara dengan pertunjukan Wayang Gedog dan Topeng Sida Karya.

 

 

3. Topeng: IJOH GADING

 

Di Puri Belambang berkuasalah seorang raja yang bernama I Gusti Ngurah Putu Tarpa dengan adiknya yang bernama I Gusti Ngurah Made Yasa. Beliau akan mengadakan upacara Meliga atau ngeluwer. Sebelum upacara dilanjutkan mereka mengadakan pertimbangan dulu ke rumah kakeknya di Menguwi. Maksud I Gusti Ngurah Tarpa dengan adiknya untuk mengadakan upacara tersebut disambut baik oleh kakeknya yang berada di Menguwi. Demikianlah akhirnya upacara dilakukan. Tetapi dalam melaksanakan upacara tersebut I Gusti Ngurah Putu Tarpa mengalami hambatan karena rakyatnya membuat lauk pauk dengan daging Naga Ijoh Gading. Arwah Naga Ijoh Gading balas dendam pada I Gusti Ngurah Putu Tarpa dengan menghambat jalannya upacara. Lama upacara tersebut tidak bisa berlangsung, kemudian roh Naga Ijoh Gading menampakkan diri dan memberikan petuah kepada I Gsuti Ngruah Putu Tarpa. Jagat Berambang kemudian hanyut, daerahnya menjadi suangai yang dinamakan sungai Ijoh gading.

 

 

4. Topeng: DALEM DUKUT

 

Pada babak yang pertama dikisahkan I Gusti Ngurah Jelantik adalah Patih dari Betara Dalem. Beliau mempunyai seorang istri yang sangat cantik. Semenjak beliau menjadi patih disana, masyarakat tentran, dan sejahtera. Oleh karena itu beliau sangat disayang oleh Ida Batara Dalem. Nah pada suatu hari beliau di utus oleh Batara Dalem untuk menyelidiki keadaan disana. Nah bagaimana cerita selanjutnya mari kita ikuti babak yang kedua.

 

Pada babak yang kedua dikisahkan I Gusti Ngurah Jelantik Sedang mempersiapkan pasukan untuk menggempur ke Nusa yaitu kepada Dalem Dukut. Setelah sampai di Nusa I Gusti Ngurah Jelantik disambut dengan rahah oleh Dalem Dukut, di suguhkan

makanan dan minuman. I Gusti Ngurah Jelantikpun menikmati hidangan yang disuguhkan oleh Dalem Dukut. Selesai makan mereka pun berperang. Tetapi sayang Dalem Dukut tidak bisa dilukai oleh senjata. Sentaja I Gusti Ngurah Jelantik dipatah-patahkan oleh I Dalem Dukut. Gusti Ngurah Jelantik merasa sedih karena maut sudah di depan mata. Tetapi tidak disangka istri beliau yang ikut kesana membawa senjata. Senjata itu terbuat dari kayu, dan rupanya tidak begitu enak untuk dilihat. Senjata itu dicoba untuk membunuh Dalem Dukut. Sungguh aneh dan mengherankan senjata yang terbuat dari kayu bisa menembus dada Dalem Dukut.

 

 

5. Topeng: GARBA JATA

 

Pada babak yang pertama dikisahkan di jagat Taman Bali Garbajata merasa sedih karena sejak kecil sampai sekarang dia belum tahu siapa sebenarnya ayah kandungnya. Kemudian beliau pergi menemui ibunya yang bernama Ida Ayu Mas.

 

Pada babak yang kedua dikisahkan perjalanan Garbajata ke hutan untuk mencari ayahnya. Tetapi sayang sudah sekian lama berjalan menelusuri hutan belum juga ditemukan ayah beliau. Tiba-tiba ada suara dari angkasa yang manyetakan bahwa ayahnya telah tiada. Suara itu tiada lain adalah suara ayahnya. Garbajata kemudian disuruh pulang menemui ibunya dan sekalian menjadi Raja di Taman Bali.

 

 

 

WAYANG KULIT

 

 

1. Wayang Kulit: ANGGADA DUTA

 

Diceritakan Dewi Sita istrinya Rama telah dilarikan ke Alengka oleh Rahwana dan akan dijadikan istrinya. Rama kemudian mengutus Anggada sebagau duta ke Alengka untuk mengetahui keberadaan istrinya Rama. Sampai di Alengka Anggada dihadang oleh pasukan Rahwana. Terjadilah pertempuran di Alengka dan Anggada berhasil membawa mahkota dari Rahwana sebagai tanda kepada Rama bahwa dia telah bertempur di Alengka. Mendengar laporan Anggada kemudian Rama menjadi marah dan menugaskan Anggada agar kembali membawa pasukan yang jumlahnya besar untuk memerangi Alengka. Akhirnya Alengka menjadi kewalahan menghadapi pasukan kera dari Rama.

 

 

2. Wayang Kulit: LAHIRNYA SANG HYANG BUDHA

 

Diceritakan Istri Bagawan Wraspati yaitu Dewitara dilarikan oleh Sang Hyang Soma yaitu cucu dari Sang Hyang Brahma. Bagawan Wraspati sangat sedih karena dia sangat mencintai istrinya. Dan segera dia melapor kepada Sang Hyang Saka. Disarankan oleh Sang Hyang Saka agar mencarinya sampai dapat. Setelah Bagawan Wraspati dan Sang Hyang Soma saling bertemu dan keduanya tidak ada yang mau kalah. Akhirnya terjadilah pertempuran sehingga turunlah para Dewata untuk melerainya. Akhirnya Dewitara dikembalikan kepada Bagawan Wraspati dan sudah mempunyai anak yang bernama Sang Hyang Budha. Sang Hyang Budha adalah lahir dari perkawinan Dewitara Dengan Bagawan Wraspati dan Sang Hyang Soma.

 

 

3 Wayang Kulit: PAMIJILAN GANA

 

Dikisahkan istri Batara Siwa yakni Batari Giri Putri ingin mempunyai anak. Untuk memenuhi keinginan istrinya Batara Siwa membuat boneka dari kain. Boneka tersebut seketika hidup setelah diberi susu oleh Batari Giri Putri. Saat Batari Giri Putri menyerahkan anak tersebut kepada Batara Siwa kepalanya tiba-tiba jatuh dan tidak bisa disatukan kembali. Batari Giri Putri mohon kepada Batara Siwa agar anaknya bisa berkepala kembali. Pamirsa bagaimana kisah ceritra selengkapnya mari kita saksikan bersama.

 

 

 

DERAMATARI

 

 

1. Deramatari Calonarang: KAUTUS RARUNG

 

Pada babak yang pertama dikisahkan di kerajaan Dirah memerintahlah seorang janda yang mempunyai ilmu hitam yang bernama Walu Nateng Dirah. Beliau mempunyai seorang putri yang bernama Diah Ratna Mengali yang sudah dipersunting oleh Raja Erlangga.

 

Pada babak yang kedua dikisahkan di kerajaan Erlangga Raja mengutus Patih Madri untuk mengembalikan Diah Ratna Mengali ke kerajaan Dirah oleh karena Ratna Mengali diperkirakan bisa ilmu hitam oleh rakyat Erlangga. Dengan keberanian dan kesaktiannya Patih Madri kemudian mengantar Ratna Mengali pulang ke Dirah.

 

Pada babak yang ketiga dikisahkan Walu Nateng Dirah menjadi sangat marah karena merasa dihina oleh Raja Erlangga. Walu Nateng Dirah kemudian mengutus I Rarung serta para sisyanya untuk membunuh Patih Madri sekaligus memporak porandakan kerajaan Erlangga. Erlangga menjadi hancur lebur oleh kesaktian Walu Nateng Dirah.

 

 

2. Deramatari Calonarang: RATNA MENGALI KATUNDUNG

 

Pada babak yang pertama dikisahkan di kerajaan Dirah memerintahlah seorang janda yang mempunyai ilmu hitam yang bernama Walu Nateng Dirah. Beliau mempunyai seorang putri yang bernama Diah Ratna Mengali yang sudah dipersunting oleh Raja Erlangga.

 

Pada babak yang kedua dikisahkan di kerajaan Erlangga Raja mengutus Patih Madri untuk mengembalikan Diah Ratna Mengali ke kerajaan Dirah oleh karena Ratna Mengali diperkirakan bisa ilmu hitam oleh rakyat Erlangga. Dengan keberanian dan kesaktiannya Patih Madri kemudian mengantar Ratna Mengali pulang ke Dirah.

 

Pada babak yang ketiga dikisahkan Walu Nateng Dirah menjadi sangat marah karena merasa dihina oleh Raja Erlangga. Walu Nateng Dirah kemudian mengutus I Rarung serta para sisyanya untuk membunuh Patih Madri sekaligus memporak porandakan kerajaan Erlangga. Erlangga menjadi hancur lebur oleh kesaktian Walu Nateng Dirah.

 

 

3. Deramatari Calonarang: RATNA MENGALI KATUNDUNG

 

Pada babak yang pertama dikisahkan di kerajaan Dirah memerintahlah seorang janda yang mempunyai ilmu hitam yang bernama Walu Nateng Dirah. Beliau mempunyai seorang putri yang bernama Diah Ratna Mengali yang sudah dipersunting oleh Raja Erlangga.

 

Pada babak yang kedua dikisahkan di kerajaan Erlangga Raja mengutus Patih Madri untuk mengembalikan Diah Ratna Mengali ke kerajaan Dirah oleh karena Ratna Mengali diperkirakan bisa ilmu hitam oleh rakyat Erlangga. Dengan keberanian dan kesaktiannya Patih Madri kemudian mengantar Ratna Mengali pulang ke Dirah.

 

Pada babak yang ketiga dikisahkan Walu Nateng Dirah menjadi sangat marah karena merasa dihina oleh Raja Erlangga. Walu Nateng Dirah kemudian mengutus I Rarung serta para sisyanya untuk membunuh Patih Madri sekaligus memporak porandakan kerajaan Erlangga. Erlangga menjadi hancur lebur oleh kesaktian Walu Nateng Dirah.

 

 

 

LESTARI

 

 

1. Lestari: SLONDING SAIH PITU

 

Diceritrakan tentang keberadaan Slonding di Desa Tenganan serta perkenalan seperangkat gambelan Slonding oleh I Nyoman Astita.

 

 

2. Lestari: TARI BARIS

 

Dikisahkan tentang cara menari baris dari sejak mulai belajar dengan menampilkan tokoh seniman tua yang di asuh oleh Nyoman Suarsa.

 

 

3. Lestari: LEGONG KRATON LASEM

 

Dikisahkan tentang cara menari Legong Kraton yang baik oleh dua

orang guru tari. Serta nama-nama gerakan yang biasanya dipergunakan dalam menari Legong denngan menampilkan seniman Legong asal Denpasar yaitu Ibu Alit Arini SST.

 

 

 

APRESIASI SENI

 

 

1. Mengenal Seniman: RENGGANIS

 

Dikisahkana menggaru yang di Bali disebut dengan ngelampit mengilhami terciptanya sebuah atraksi seni yang disebut dengan sapi gerumbungan merupakan kesenian khas dari Bali utara. Keindahan dan keserasian penampilan serta hiasan sapi merupakan salah satu daya tarik tersendiri disamping kecepatan dalam mengayunkan langkahnya. Seluruh kegiatan petani padi mulai mengolah tanah seperti mencangkul sampai dengan datangnya panen. Selesai panen untuk menghibur diri mereka lalu menyanyi bersama-sama disawah yang disebut rengganis. Ini dilakukan oleh kaum lakinya. Sedangkan ibu-ibunya melakukan permainan lesung dan alu yang di Desa Banyuning Buleleng disebut dengan Nguncang.

 

 

2. Mengenal Seniman: LATAR BELAKANG TARI ANDIR

 

Diceritrakan tentang latar belakang para penari terkenal atau seniman tua seperti misalnya Jero Puspawati membawakan tari Demang Miring, sebuah tari yang kebanyakan gerakannya diambil dari gerak-gerak tari Demang dalam Gambuh yang dikombinasikan dengan gerak-gerak tari Legong Kraton. Juga diceritrakan tentang keahlian Ida Bagus Wirjana didalam membawakan tari kebyar duduk. Serta dari Desa Tita Kerambitan Tabanan dikisahkan tentang Sekeha Andir yang masih hidup dan aktif sampai saat ini. Pementasan biasanya dilakukan untuk kepentingan upacara adat atau odalan di Pura-Pura yang terdapat di daerah disekitarnya. Kelengkapan busana tari sekeha inipun beragam misalnya gelung prabu, dia langka sari, tari condong, gagak dan lain sebagainya.

 

 

 

Copyright ©2002 BAJRA

Webdesign by Richard Fox

Last updated: 25 February 2002